Ibu dan Anak Yang Terpisah Karena Perang Korea

Ibu dan Anak Yang Terpisah Karena Perang Korea – Seperti yang anda ketahui Korea memiliki permasalahan yang sampai sekarang belum terselesaikan. Kedua wilayah terpisah karena masalah politik dan ideologi yang berbeda di keduanya.

Sudah bukan rahasia, perang Korea sudah menjadi berita hangat setiap harinya. Selalu memanas dikeduanya, padahal masalah sudah cukup lama. Ada banyak negara lainnya yang ikut partisipasi dalam urusan masalah tersebut. Banyak yang bilang negara maju ada yang menunggangi salah satu wilayah tersebut untuk mengambil keuntungan dari perselisihan keduanya.

Ibu dan Anak Yang Terpisah Karena Perang Korea

Dari perselisihan tersebut tentu yang dirugikan adalah masyarakatnya. Yang seharusnya menikmati negara yang maju, bagian Utara harus merasakan hidup secara pas-pasan dengan aturan yang sangat ketat tidak ada kebebasan berpendapat seperti masyarakat di negara lainnya.

Bukan hanya berpendapat, Penduduk di negara korea bagian utara juga banyak di batasi kebebasannya dalam hal hiburan seperti bermain Judi Online yang biasa member https://1388sports.com mainkan setiap hari seperti Slot Online, Poker Online, dan lain lain.

Memang aturan tersebut hanya ada di salah satu wilayah Korea yaitu Utara. Karena perselisihan tersebut ada kisah ibu dan anak yang terpisah hampir 70 tahun lamanya karena perang Korea.

Kisahnya ini berawal saat perang Korea pada tahun 1950. Sang ibu yang bernama Lee Keum Som terpisah dengan sang anak yang bernama Sang Chol saat usianya masih 4 tahun. Saat peperangan tersebut ia, sang suami, dan kedua anaknya melarikan diri dari Provinsi Hamgyong Selatan yang sekarang provinsi tersebut menjadi dibawah kekuasaan Korea Utara.

Saat pelarian tersebut Lee dan anak perempuannya terpisah dengan sang suami dan Sang Chol. Lee dan anak perempuannya berhasil melintasi perbatasan Korsel dan Korut, sedangkan suaminya dan anak lelakinya masih berada di Korea Utara.

Dampak Dari Perpecahan Korea

Sebenarnya tidak hanya mereka saja yang terpisah dengan keluarga saat perang tersebut. Ada banyak puluhan ribu pengungsi yang kehilangan keluarganya saat pelarian.

Saat Lee sampai di semenanjung Korea, saat itu ia sudah tahu bahwa tidak akan pernah bisa bertemu suami dan anaknya lagi sampai perang keduanya selesai. Namun keberuntungan ada dipihak Lee, Lee menjadi salah satu orang yang dipilih pemerintah untuk bertemu kembali dengan keluarga yang terpisah.

Kesempatan ini memang merupakan perjanjian antara Korut dan Korsel untuk memberikan kesempatan kepada para keluarga yang terpisah dan bisa bertemu selama 3 hari.